hapid siroz

Profil
Isi Menu Tab View 2
Isi Menu Tab View 3

Kamis, 01 September 2011

Islam Sebagai Konsep Hidup

“Kamu adalah umat yang terbaik (khairu ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah,” (QS Ali ‘Imran [3]: 110).

Ayat di atas mengungkapkan bahwa umat Islam adalah umat terbaik (khairu ummah) di antara umat yang ada. Sebelum membahas konsep khairu ummah ini, akan dijabarkan pengertian ummah. Quraish Shihab, dalam Wawasan Al-Quran, menyatakan kata “ummah” terambil dari kata “amma-yaummu” yang berarti menuju, mampu, dan meneladani. Dari kata yang sama lahir kata “um” yang berarti ibu dan “imâm” yang berarti pemimpin karena keduanya menjadi teladan, tumpuan pandangan, dan harapan anggota masyarakat.

Seorang pakar bahasa al-Quran yang bernama Ar-Raghib al-Asfahani dalam al-Mufradât fi Gahrîb al-Qur’ân—sebagaimana dinukil Quraish Shibab–mendefinisikan ummah sebagai kelompok manusia yang dihimpun oleh sesuatu seperti agama, waktu, dan tempat yang sama, baik terhimpun secara terpaksa maupun suka rela.


Quraish Shihab menuturkan bahwa “ummah” mengandung arti gerak dinamis, arah, waktu, jalan yang jelas, serta gaya dan cara hidup (way of life). Jika kata “ummah” dan “Islam” digabung, maka ia berarti himpunan manusia yang tidak disatukan oleh tanah air (nasionalisme) atau keturunan (suku), melainkan disatukan oleh keyakinan, yaitu Islam.
Sejatinya, makna umat Islam ini tidak hanya dimaknai sebagai sesuatu yang statis, yakni kesatuan agama saja, tapi juga dinamis. Dalam arti, menjadikan Islam sebagai cara hidup, cara meraih tujuan, dan tujuan hidup. Dari sinilah kemudian intelektual asal Iran Ali Syariati mengistewakan kata “ummah” dari kata “nation” (bangsa) atau qabilah (suku). Ia mendefinisikan “ummah” sebagai “himpunan manusiawi yang seluruh anggo tanya bersama-sama menuju satu arah, bahu-membahu, dan bergerak secara dinamis di bawah kepemimpinan bersama”.

Kembali kepada QS Ali ‘Imran [3]: 110, disebutkan bahwa umat Islam akan menjadi khiru ummah (umat terbaik) dengan dua syarat, yaitu al-amru bi al-ma’rûf wa an-nahyu ‘an al-munkâr (menyuruh kebaikan dan mencegah keburukan) dan tu’minûn billah (beriman kepada Allah).

Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Ketika mengomentari QS Ali ‘Imran [3]: 110 ini, Qurthubi menyatakan bahwa saat umat Islam kehilangan dua sikap ini, al-amru bi al-ma’rûf wa an-nahyu ‘an al-munkâr dan beriman kepada Allah, serta terlena dalam kemunkaran, mereka akan hancur karena hal ini merupakan sebab kehancuran umat Islam.

Secara sederhana, kata “al-ma’rûf” biasanya didefinisikan sebagai kebaikan atau kebajikan. Lantas apa perbedaan kata “al-ma’rûf” dengan “al-khair” yang biasanya juga diartikan sebagai kebaikan?

“Al-ma’rûf” berasal dari kata “’arafa-ya’rifu” yang berarti mengetahui. Jadi, menurut bahasa “al-ma’rûf” adalah yang diketahui. Dari kata ini juga lahir kata “’urf” yang berarti kebiasaan, tradisi atau adat. Jadi, “al-ma’rûf” adalah kebaikan yang dikenal oleh masyarakat setempat. Sedangkan “al-khairu” adalah nilai-nilai kebaikan yang bersifat universal.

Menghormati orangtua adalah nilai universal. Tapi cara menghormati orangtua bisa berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Misalnya, bagi masyarakat Jawa, mencium tangan orangtua adalah wujud atau cara menghormati orangtua. Tapi cara ini tidak dikenal masyarakat Padang. Ini tidak berarti bahwa masyarakat Padang tidak menghormati orangtua. Mereka menghormati orangtua dengan cara mereka sendiri yang berbeda dengan cara masyarakat Jawa.

Tentu saja tidak semua tradisi atau adat masuk dalam kategori “al-ma’rûf”. Jika tradisi tersebut sesuai dengan “al-khair”, yakni nilai-nilai kebaikan universal yang diajarkan Islam (al-Quran), maka ia masuk dalam kategori “al-ma’rûf”. Jika tidak, ia masuk dalam ketegori “al-munkar” (buruk).

Ada tradisi baik di masyarakat Indonesia yang tidak dikenal masyarakat Arab. Misalnya tradisi mudik. Para ulama sepakat tidak mengharamkan tradisi ini karena ia sesuai dengan ajaran Islam. Islam memerintahkan umatnya untuk menyambung tali persaudaraan. “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah ...,” (QS Muhammad [47]: 22-23).

Jadi, perngertian al-amru bi al-ma’rûf wa an-nahyu ‘an al-munkâr adalah adalah menganjurkan orang lain melakukan perbuatan baik yang dikenal oleh masyarakat setempat—sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai al-Quran—dan melarang perbuatan keji.

Anjuran berbuat baik tidak hanya untuk sesama Muslim, tapi juga non-Muslim. Meskipun berbeda agama, tidak ada larangan dalam Islam menyuruh non-Muslim berbuat baik. Begitu juga anjuran untuk mencegah kemunkaran. Siapa pun, baik Muslim atau non-Muslim, jika ia melakukan kezaliman, baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat, harus dicegah sesuai dengan kemampuan. Inilah syarat pertama yang harus terpenuhi jika umat Islam ingin tampil sebagai umat terbaik di muka bumi.

Beriman Kepada Allah

Beriman kepada Allah Swt adalah syarat kedua untuk tampil sebagai “khairu ummah”. Pengertian beriman di sini tidak cukup hanya dengan pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, tapi pengakuan ini harus menyinari sikap dan perilaku dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah hakikat keberimanan; totalitas dari setiap tingkah laku, amal perbuatan, dan perkataan yang menjadikan ajaran Allah sebagai pijakan hidup.

Ini artinya, menjadi Mukmin dan Muslim tidak hanya di atas sajadah atau di dalam masjid. Tapi juga menjadi Mukmin dan Muslim di pasar, terminal, dan di mana pun kita berada. Lebih bagus lagi jika nilai-nilai Islam ini terjelma dalam sistem berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang mencakup di dalamnya sistem hukum, politik, ekonomi dan lain sebagainya.
Sayangnya, sebagian besar umat Islam menjadi Mukmin dan Muslim di atas sajadah atau di dalam masjid saja. Di luar itu, nilai-nilai Islam jauh dari perilaku mereka. Lihat saja, mayoritas negara-negara berpenduduk Muslim mayoritas adalah negara otoriter, kolusif, nepotis, dan korup. Negara ini, yang dihuni oleh umat Islam terbesar di dunia, tersohor sebagai salah satu negara terkorup dunia.

Hal ini disebabkan karena keimanan dan keislaman hanya dilihat sebagai hubungan personal dengan Allah melalui berbagai ibadah madhdah semata. Padahal, bekerja, berdagang, berbisnis, bermasyarakat, bagi seorang Mukmin dan Muslim, harus disinari ajaran Islam dan menjadikan Allah sebagai tujuan akhir. “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’,” (QS al-An’am [6]: 162).
Berdasarkan ayat ini, bagi setiap Mukmin dan Muslim, segala perbuatannya harus ditujukan untuk menuai ridha Allah. Karena itu, tidak ada tempat, walau sekecil apa pun, bagi sekularisme dalam kehidupan Muslim.

Umat Islam akan tampil sebagai umat terbaik, jika keimanan kepada Allah tidak hanya terjelma dalam bentuk ritual semata, tapi juga menjadi konsep hidup, baik hubungan individual, komunal, regional, maupun internasional. Konsep yang diajarkan Islam dalam hidup bersama adalah berbuat baik terhadap orang lain, bukan menyakiti. “… Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu,” (QS al-Qashash [28]: 77).

Jika umat Islam sudah beramar ma’fur dan bernahi munkar dengan benar serta nilai-nilai Islam memancar dalam tingkah laku dan perbuatan mereka karena menjadikan Islam sebagai konsep hidup, maka insya Allah umat Islam akan menjadi khairu ummah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar